Halo, frensss! malam ini saya balik lagi ke blog dan pengen membahas materi yang sedikit berbau ilmiah tapi masih santai untuk dibahas. Yapss, kali ini kita mau bahas fenomena alam, yang mana tema ini menjadi salah satu tema obrolan favorit saya, karena pastinya kalau udh ngebahas hal ini ga akan ada habisnya yang mana tema-tema semacam ini akan terus memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang superdupeeeer banyakkk dari otak saya. Fenomena alam menjadi sesuatu yang sejak dulu membuat saya antusias untuk membahasnya, dan tidak pernah bosan malah kesel saat gatau jawabannya mengapa suatu fenomena itu bisa terjadi. Apalagi kalau udh ngebahas soal luar angkasa, wah semangat banget sih ini. Dulu saya penasaran banget sama galaksi-galaksi yang ada di luar angkasa sana, saking penasarannya dulu sampai sering diskusi sama temen di jamkos waktu SMA tentang di bawah angkasa ada apa, ngebahas stasiun luar angkasa, dimensi keenam, black hole, worm hole, ngebahas film-film Sci-Fi (Interstellar, the martian, gravity dll), baca - baca web langitselatan.com yang keren abis, pokoknya seru deeh. So, daripada kelaman mending kita langsung bahas aja yang pertama mengenai teori pembentukan bumi.
1. Teori Nebula (kabut)
Ketika kita searching di internet mengenai teori nebula ini,
kita akan menemukan nama filsuf yang pasti kalian ga asing denger namanya, yap
Immanuel Kant. Beliau selain ahli pada ilmu-ilmu alam lain, Ia juga pernah
mengemukakan teorinya mengenai pembentukan tata surya (termasuk bumi) di dalam
karyanta tahun 1755 yang berjudul “The Universal Natural History and Theories of
the Heavens” di dalam karyanya ia berpendapat bahwa pada awalnya, kabut dan gas
yang ada di angkasa berputar lambat dan membentuk cakram datar dengan beberapa
inti massa. Nah, inti massa yang berada di tengah memiliki suhu tinggi dan
berpijar lalu membentuk matahari, sementara bagian inti massa di pinggirnya
mengalami pendinginan dan perlahan-lahan berubah menjadi planet yang mengorbit
pada matahari.
![]() |
| Kurang lebih begini penampakan prosesnya menurut Kant |
2. Teori Awan Debu
Teori awan debu atau yang nama kerennya disebut The Dust-Cloud Theory ini sebenarnya hampir mirip dengan teori nebula diatas, namun hal yang membedakan dari keduanya adalah prosesnya. Dimana pada teori awan debu ini proses
yang terjadi adalah pemampatan di tengah awan. Nah, coba deh sekarang kalian bayangin awan yang terbang di
angkasa. Salah satu gumpalan awan di sana mengalami pemampatan. Nah, pada
pemampatan inilah partikel debu tertarik ke pusat awan dan membentuk bola yang
lama-lama menjadi cakram. Partikel di tengah cakram tersebut saling menekan dan
menghasilkan panas dan memijar. Nah, bagian tengah inilah disebut dengan
matahari. Sisanya, yang dibagian luar berputar dengan amat cepat, lalu mereka
akan bermentalan dan pecah menjadi gumpalan kecil. Nah, gumpalan kecil ini lah yang disebut sebagai tata surya
termasuk bumi di dalamnya. Oh iya, teori ini dikemukakan oleh Carl
Friedrich von Weizsӓcker dan disempurnakan oleh Gerard Peter Kuiper.
3. Teori Planetesimal
Nah yang ketiga nih, teori planetesimal dikemukakkan oleh Forest R. Moulton dan Thomas C. Chamberlin tahun 1905. Berbeda dengan teori nebula, teori ini menyatakan bahwa matahari telah ada. Nah, menurut Moulton dan Chamberlin ini pada suatu saat muncul bintang yang ukurannya sebesar matahari, bintang ini memiliki gravitasi dan mengorbit di dekatnya. Hal ini tentunya berpengaruh terhadap matahari. Partikel-partikel kecil matahari pun terseret keluar (karna adanya gravitasi) dan mengambang - ngambang di angkasa. Partikel kecil ini lama-lama akan berkumpul, menyatu dan menjadi keras dan dia biasa disebut sebagai planet.
4. Teori Pasang-Surut
Udah sampe yang ke empat nih, teori ini dinamakan teori pasang surut *loh kok ngomongin laut?*
eitsss sabar,
kita masih ngomongin teori pembentukan bumi, kok. Tenang..
Nah, ini teori sebenernya masih mirip sama teori di atas, yap planetesimal. Mirip dimananya?
Teori ini juga berpendapat bahwa matahari itu sudah ada. Sama kan?
Iya teori ini bilang gitu, cuma bedanya dengan teori planetesimal pada teori pasang surut ini, yang ketarik gravitasi bintang itu gelombang pasang gas-gas matahari dan bukan partikel-partikelnya. Nah kenapa disebutnya pasang-surut? karena pada saat matahari berdekatan dengan bintang (bintang yg ku maksud sama kaya yg udh dijelasin di teori planetesimal) yang kita tau keduanya sama-sama punya gravitasi, bintang akan menarik gas- gas matahari dan matahari juga menarik kembali gas-gas tersebut akhirnya seperti orang yang tarik menarik tali rapia, tali rapia tersebut akan putus. Nah, tali rapia disini maksudnya gas gas matahari yg tadi saling ditarik. Sebagian ketarik lagi ke dalam matahari dan sebagian lagi pecah yang akan menjadi cikal bakal terbentuknya planet.
5. Teori Bintang Kembar
Kelimaaa gaisss, nah ini nih teori bintang kembar. Teori ini dikemukakan oleh R. A. Lytteton seorang ahli
astronomi. Menurut pendapatnya, teori ini berasal dari bintang kembar, dimana
salah satu bintang meledak sehingga bahan materialnya terlempar, dari besarnya
gaya gravitas bintang yang tidak meledak membuat material yang terlempar
kemudian akan tertarik dan mengelilingi matahari. Bintang yang tidak meledak
disebut dengan matahari. Sedangkan pecahan bintang yang lain adalah
planet-planet yang mengelilinya.
Guysss, ternyata ada yg ketinggalan teori yang paling terkenal. IYAAA BENARRR. Kalian tau kan teori apa??
iyaaa
B I G B A N G
Dalam teori ini, awal mula alam semesta ini berbentuk satu massa yang besar (nebula primer). Kemudian terjadilah dentuman besar atau ledakan pemisah sekunder (Bing Bang) yang mengakibatkan pembentukan galaksi yang terbagi dalam planet, matahari, bulan dan lainnya.
Teori Big Bang memberikan penjelasan paling komprehensif dan akurat tentang penciptaan alam semesta. Teori ini diperkenalkan pada tahun 1927. Orang yang pertama kali memperkenalkan teori Big Bang adalah Georges Lemaître, seorang biarawan Roma Belgia, meski ia menyebutnya sebagai hipotesis atom purba.
Nah, setelah ngebahas tentang pembentukan bumi kali ini saya mau ngebahas mengenai fenomena alam yang menurut saya Masyaa Allah unik banget.
Fenomena Alam Columnar Basalt
Fenomena Alam Columnar Basalt
Columnar Basalt berasal dari Bahasa inggris dan terdiri dari dua kata "columnar' dan "basalt". "Columnar" yang artinya berbentuk kolom dan "basalt"yang artinya batuan beku yang ekstrusif (bantuan vulkanik). Sedangkan secara keseluruhan, defenisi dari columnar basalt adalah formasi bebatuan yang berbentuk hexagon (segi enam) karena lava dari letusan gunung yang mendingin. Columnar basalt juga sering dikenal dengan sebutan columnar joint.
Columnar joint ini berbentuk tiang-tiang prisma sejajar yang pada umumnya terbentuk pada aliran basal. Pola khusus ini dihasilkan akibat pendingan lava gunung berapi yang membeku dan patah ke arah tegak lurus dengan asal aliran. Basalt mengalir dengan cepat yang menyebabkan penyusutan dan keretakan bentuk batuan dan pada umumnya membentuk pola hexagonal. Ada beberapa contoh dari bentuk yang tidak umum, antara lain tiang-tiang tersebut menunjukkan 3 hingga 12 sisi, yang berbentuk seperti tiang-tiang. Dimana diameter tiang berbeda-beda, berkisar dari beberapa inchehingga beberapa kaki.
Tidak ada kerugian yang ditimbulkan dari adanya columnr joint ini. Malah sebaliknya fenomena alam unik ini dapat menjadi tempat pariwisata yang dapat menarik para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Columnar joint ini banyak temukan di Amerika Serikat, Irlandia hingga India.
Daaan, fenomena terakhir yg ingin dibahas adalah
'why does the air feel hot when it's cloudy?'
Awan terbentuk ketika air yang ada di laut, danau, dan sungai mengalami penguapan. Sinar matahari membuat air menguap ke atas menjadi gas. Kumpulan gas-gas hasil penguapan itu berkumpul dan jadilah awan. Di atas langit sana, udara lebih dingin daripada di bawah. Sama seperti kalau kita lagi pergi ke daerah Puncak, pasti akan lebih dingin daripada di Jakarta. Nah, gas yang tadi naik ke atas itu suhunya panas karena merupakan hasil penguapan. Gas panas ini bertemu dengan udara dingin di atas. Pada saat udara panas bertemu dengan udara dingin, terbentuklah awan yang lebih tebal. Semakin lama, udara yang bercampur semakin banyak. Ketika awan mendung terbentuk, di dalam awan itu akan terjadi proses perubahan uap air menjadi air. Nah, pada saat itulah, awan akan melepaskan panas ke udara. Awan mendung berada lebih di bawah awan-awan yang lain, tidak terlalu tinggi jaraknya dengan kita. Maka itu, udara panas yang dilepaskan awan mendung itu akan lebih terasa.
Awan terbentuk ketika air yang ada di laut, danau, dan sungai mengalami penguapan. Sinar matahari membuat air menguap ke atas menjadi gas. Kumpulan gas-gas hasil penguapan itu berkumpul dan jadilah awan. Di atas langit sana, udara lebih dingin daripada di bawah. Sama seperti kalau kita lagi pergi ke daerah Puncak, pasti akan lebih dingin daripada di Jakarta. Nah, gas yang tadi naik ke atas itu suhunya panas karena merupakan hasil penguapan. Gas panas ini bertemu dengan udara dingin di atas. Pada saat udara panas bertemu dengan udara dingin, terbentuklah awan yang lebih tebal. Semakin lama, udara yang bercampur semakin banyak. Ketika awan mendung terbentuk, di dalam awan itu akan terjadi proses perubahan uap air menjadi air. Nah, pada saat itulah, awan akan melepaskan panas ke udara. Awan mendung berada lebih di bawah awan-awan yang lain, tidak terlalu tinggi jaraknya dengan kita. Maka itu, udara panas yang dilepaskan awan mendung itu akan lebih terasa.
sumber :
https://www.kompasiana.com/tiarakusumadewi/59abaf7e5039332e86618582/fenomena-unik-columnar-basalt
https://bobo.grid.id/read/08678878/kenapa-kita-merasa-panas-saat-akan-turun-hujan?page=all
https://bobo.grid.id/read/08678878/kenapa-kita-merasa-panas-saat-akan-turun-hujan?page=all
.png)
No comments:
Post a Comment