Here,
I am challanging my self back to this blog again, to spend my story, my feeling, and
my emotion. As you can see in my previous post, I started blogging on 2015, but
It’s just because my teacher is begged me to accomplished my TIK’S Assignment..
But in that time too, I already to be a passive blogger, becuse I just read a
hundred story from other blog. I love to do this sience I’m on juniour high
school at grade 8. There was a time that I didn’t have any handphone, and that was
so boring at the time, so I always spending my father/mother’s internet data to
blogsurfing, searching a story that I like to read till I wasting the time much,
but yeah, there’s so much adventage, and from that moment I started to write my
story in my blog.
Gak terasa iiiih, aku udh di bangku kuliah. Bahkan
ini bangku kuliah keduaku, wkwkwkw. Dulu, waktu aku SMP, aku selalu kepikiran
mau kuliah di Bandung, gatau kenapa Bandung menjadi salah satu kota di
Indonesia yang sangat aku sukai dan yang ingin aku tinggal-i. Sampai akhirnya
di tes seleksi nasional masuk perguruan tinggi di 2018, aku milih dua kampus
yang berada di Bandung. Saking kepengennya, sampe-sampe aku ga peduli mau kuliah
apa yang penting di Bandung. Kampus yang pernah aku minati kaya ITB dan Unpad,
dua-duanya nolak aku. L
Waktu itu kebetulan aku emang kepengen masuk kejurusan teknik pangan dan
mikrobiologi ITB. Gatau kenapa aku tertarik sama kedua hal itu, walaupun aku
tau, aku gak suka banget sama hitung-hitungan atau aku kurang bisa menikmati
pelajaran-pelajaran eksakta.
Makin kesini
aku makin sadar, ternyata saat itu aku merasa, aku banyak mengenyampingkan
pikiran-pikiran rasionalku (logika), yang kalau misalnya aku ga suka hitungan
harusnya jangan maksa mau masuk rumpun-rumpun per-teknik-an. Aku lebih mengedepankan
perasaanku ternyata, iya EGO. Aku sadar betul di setiap tes kepribadian, hasil
kepribadianku selalu lebih mengedepankan perasaan dalam pengambilan keputusan,
mungkin hal ini yang membuat kenapa aku bisa membuat pilihan seperti itu,
padahal itu adalah langkah awal dari pilihan yang akan menentukan hidup aku
kedepannya, mau jadi apa dan berkecimpung (hah?) di dunia apa.
Sampai akhirnya, di SBMPTN pun aku masih maksa buat
ikut yang saintek, padahal aku tau aku ga suka dengan hal-hal ini, tapi aku
masih mengedepankan ego. Aku pilih lagi jurusan gizi, kali ini ga di Bandung, tapi
depok,bogor, jaksel. Kalian tau deh pasti univ apa aja yang aku pilih.. hahaha.
Sebelum SBMPTN mulai, waktu itu aku sangat optimis, iyaa optimis, optimis ga
masuk. Dan yaa... bener dong aku ga masuk, jujur aja saat itu aku sedikit
sesek, nangis, dan tertekan. Tapi mama selalu bilang, mungkin emang belum
rejeki. Tapi, aku berpikir bahwa emang saat itu aku ga pantes, kalau aku dapet
pengumuman hijau a.k.a Lolos, kerja kerasku kurang dan aku hanya belajar saat
dimana mau ulangan saja, terus juga jeleknya sikapku saat itu, aku merasa
minder dengan teman-teman lain yang mereka ikut les sana sini, sedangkan aku
struggling sendiri dan suka bingung sendiri. Pokoknya jadi kaya malah takut
melihat progress orang lain, yang
akhirnya bukannya bikin aku terpicu, amal bikin aku makin down. Intinya saat itu aku sering merasa down, apalagi ketika ikut try
out nasional dan tau urutan rank-ku, rank kesekian. Makin-makin aku down, bahkan rasanya lebih down ketika melihat rank nasional ku di nilai try
out daripada pengumuman SBMPTN hihihi. Sungguh pengalaman yang
fantastis...... WoW...
Sebelum tes SBMPTN bahkan aku sudah menyusun rencana
dan strategi. On fire ku untuk SBMPTN tahun depan sudah tumbuh hahaha... ini
paling lucu, aku mensugesti diriku sendiri ‘udah aku ga akan lulus tahun ini,
ga akan’, soalnya aku tau amunisiku tuh ga memadai, tapi pas udh deket-deket
tes sbm, masih aja ada perasaan harap-harap dapet wkwkwk. Walaupun aku pikir
kemungkinannya akan kecil. Akhirnya bener pas pengumuman, aku udah ga kaget.
Sebenernya aku terima-terima aja, karena emang itu pantes. Tapi satu hal yang buat
aku down adalah teman-teman ku banyak
yang lolos dan masuk PTN yang menurut anak SMA yang sangat idealis dan ambis saat
ituuu TOP MARKOTOP hahaha.
Akhirnya aku bilang ke mama sama ayah, ‘mah, kaka
mau kosong dulu setahun’, ‘mau ikut les’, bahkan aku inget aku nulis di
belakang buku BKUI “I’ll fight for, Fakultas Psikologi 2019” Hahaha, randomnya
aku. Tapi dari SBMPTN itu aku belajar dan sadar, bahwasanya tes masuk aja aku
sudah tidak kuat menghadapinya, apalagi bentuk perkuliahannya. Terlebih untuk
orang yang sebenernya ga cinta dan ga passion di bidang eksakta kaya aku,
pastinya It won’t be easy. Akhirnya
aku coba sadar dikit buat make logika. Hahahaha. Membuka pikiran-pikiran masa
laluku, tentang pengen jadi apa aku dulunya. Akhirnya aku inget waktu sd mau
ngajar bahasa inggris (tapi gamau disebut guru), mau jadi chef biar bisa masuk tv kaya Farah Quinn, koki cilik dan bu Sisca Soewitomo,
mau jadi pengusaha gara-gara suka nonton seri kisi-kisi di indosiar atau
elshinta tv ya lupa, smp mau jadi orang yang ahli di bidang pkn dan kenegaraan,
lalu di smp mau jadi web design gara-gara suka bacain blog orang, waktu smp
juga mau jadi diplomat, pokoknya biar bisa ke luar negeri. Waktu SMA aku
bingung, tapi maksa. Hahaha.
Akhirnya, setelah ngulik-ngulik sebenernya aku pengen
jadi apa, aku tetep bingung. Tapi yang aku yakini, aku ini sangat berjiwa
sosial gaissss. Maka dari itu, aku memutuskan untuk tidak menengok-nengok
jurusan yang ada di saintek kaya di ITB itu wkwk. Aku teringat, teman-temanku
jaman SMP sangat amat senang menceritakan keluh
kesahnya kepadaku, dan mereka bilang aku bisa memotivasi dan
mempengaruhi, seperti memberi insight(hahaha
pengen ketawa). In the end, kalian tahu kan apa yang ada dipikiran ku??? Nah,
iyaa.... Psikologi, aku langsung nembak PSIKOLOGI UI 2019. Hehehe. That’s my
big target on the past one year. I’m soooo excited. Akhirnya aku semangat lagi
belajar menghabiskan sisa quipperku yang tinggal 3 bulanan lagi, sampai
akhirnya.......
Lanjut ke cerita 2 sampai besok, see youu J
No comments:
Post a Comment